Apakah penamaan Desa Kaliyoso, Dungaliyo, Gorontalo terinspirasi dari Kaliyoso, Kalijambe, Sragen? Gambar di atas adalah Gapura menuju Pondok Pesantren Kyai Abdul Djalal yang berada di Kaliyoso, Jetis Karangpung, Kalijambe, Sragen. Hm, meski agak berbeda dari tulisan lain di blog saya, entahlah, saya memiliki minat kepada sejarah dengan beberapa artikel yang berlabel dengan sejarah (https://datacomlink.blogspot.com/search/label/sejarah), tapi kebanyakan terkait sejarah teknologi informasi. Mari sila baca beberapa fakta yang penulis himpun berikut.

1. Keberadaan Kaliyoso di Kecamatan Dungaliyo, Kabupaten Gorontalo diketahui penulis ketika mencari alamat makam Kyai Modjo di Sulawesi dan menemukan artikel menarik di Majalah Gatra edisi 47/XIV 8 Okt 2008 (https://goo.gl/8ewQhL) lalu dari laporan beritanya, desa Kaliyoso tersebut didirikan oleh rombongan pengikut Kyai Modjo (atau Muslim Muhammad Halifah, paman Pangeran Diponegoro dari pihak ibuknya).

2. Menurut Buku Silsilah Leluhur Kaliyoso, Sragen, Kyai Abdul Djalal 1 dulu nyantri ke Pondok Pesantren di Modjo Baderan, sebelah barat Tegalgondo, lalu diambil menantu gurunya (Jumal Korib ?) dan mendapat 'dawuh' untuk membuka lahan di sebelah utara Sungai Cemoro, hingga berujung pada tahun 1788 Masehi berkat jasa Kyai Muh Qorib (13B3), seorang putra dari kakak tirinya Kyai Abdul Djalal 1 yaitu Kyai Kartataruno (A2), beliau diminta mencari keberadaan Raja Paku Buwono IV yang hilang di Hutan Jogopaten saat berburu kijang, sehingga beliau mendapat hadiah Tanah Perdikan dan oleh Raja Paku Buwono IV diberikan nama Kaliyoso.




3. Menurut Ibu Sri Rahayu T Zees (https://www.facebook.com/ayu.zees) beliau pernah melakukan kunjungan (https://goo.gl/x295PB) ke Pasarean Kyai Modjo (https://goo.gl/KZHaAG) di Modjo Wetan, Tegalrejo, Sawit, Boyolali & ketempat kerabatnya yang ada di Baderan, Sidowayah, Polanharjo, Klaten, yang ternyata hanya berjarak 1,5 KM dari Modjo Wetan di Sawit sehingga penulisan Modjo Baderan di dalam Buku Silsilah Leluhur Kaliyoso, Sragen kuranglah tepat dikarenakan Modjo bukan merupakan bagian dari Baderan, tetapi Modjo dan Baderan berada di dua kabupaten yang berbeda, yaitu Boyolali dan Klaten, penulis sendiri sudah berkunjung langsung ke Modjo di Sawit, Boyolali 11 Juni 2017 dan menemui bapak Sulaiman DS selaku juru kunci Pasarean Kyai Modjo (https://goo.gl/t6cZPe) sedangkan di Baderan, Sidowayah, Klaten Juni 2017 bertemu dengan Pak Modin atau Nur Wahyudi (https://goo.gl/4WyhdD), menanyakan kekerabatan Kyai Abdul Djalal dengan Kyai Jumal Korib tapi alfa karena Ir. Nisyamhuri (http://tekim.undip.ac.id/v1/tentang-teknik-kimia/) ahli waris Kyai Modjo telah almarhum, dan petilasan Pondok Pesantrennya kini dijadikan objek wisata Kampung Dolanan Sidowayah (http://www.training77.com/) namun beliau memberikan rujukan untuk berkonsultasi kepada Ir. Heru Basuki Modjo yang juga masih trah Kyai Modjo.


4. Menurut Pak Iskandar T Zees (https://www.facebook.com/iskandar.jabo) dimana marga Zees sendiri menurut beliau merupakan marga dari Kyai Hasan Besari, meriwayatkan bahwa Kaliyoso di Gorontalo itu diberi nama oleh kerabatnya. Selain Marga Zees, ada juga marga Pulukadang keturunan Kyai Hasan Ahmad, Mbah Baderan dengan marga Baderan, dan Kyai Muslim Muhammad Halifah dengan marga Modjo, salah satunya yang cukup familiar bagi pembaca adalah vokalis grup Sheila On 7, dengan nama lengkap Akhdiyat Duta Modjo. (https://goo.gl/7RWDu6)

5. Menurut Pak Ardiyanto Modjo (https://www.facebook.com/ardiyanto.modjo) MSi, Kaliyoso dinamai oleh Kyai Amal bin Jumal bin Gazali yang hidup tahun 1885 Masehi, argumen penamaan Kaliyoso karena disana terdapat banyak kali (sungai-pen).

6. Kyai Yahya (29C5) bin Kyai Moh Korib (13B3), yang penulis sendiri pernah berziarah ke makam beliau 21 Mei silam (https://goo.gl/bcVNVy),  namanya kini diabadikan sebagai nama Masjid Al Yahya (https://goo.gl/9NCbFY) di Tuban, Gondangrejo, Karanganyar, memiliki adik kandung putri yang menjadi istrinya Mangun Redjo, dimana menurut Buku Silsilah Leluhur Kaliyoso, Sragen merupakan anaknya Kyai Modjo (?). Menurut penuturan Prof Drs Ishak Pulukadang (https://www.facebook.com/ishak.pulukadang), terdapat nama Mangun dalam rombongan 1 ke Ambon dan ada nama Mangoon yang tiba di Manado tanggal 1 Mei 1830 (sumber Ina Mirawati Anri), dari 63 rombongan yang tiba di tondano pertengahan Mei 1830 ada nama Ma'un asal Modjo.



7. Kyai Zakaria 1 (15B5), kakek Canggahnya Kyai Idris (https://goo.gl/hQiCMD) (419F1) Kacangan, beliau seorang Mursyid Tarekat Syadziliah (https://id.wikipedia.org/wiki/Tarekat_Syadziliyah), tercatat di Buku Silsilah Leluhur Kaliyoso, Sragen juga ikut berjuang dalam Perang Diponegoro tapi sebagai penasehat dan bermakam di Pabelan, Magelang. Sedangkan menurut Pak Iskandar, Kyai Modjo sendiri pengamal Tarekat Syattariyah (https://id.wikipedia.org/wiki/Tarekat_Syattariyah).

8. Menurut Buku Silsilah Leluhur Kaliyoso, adik tiri Kyai Abdul Djalal 1, yaitu Kyai Khamdani (A10) yang bermakam di Rujak Gadung, Karangketug, Gadingrejo, Pasuruan, dimakamkan disana karena ikut Perang Diponegoro, cucu Udeg-Udeg beliau salah satunya Gus Ulin Nuha (4117G1) pemilik Pondok Pesantren Madrosatul Qur'an (https://goo.gl/ikoJt5), Modjo, Andong, Boyolali yang penulis 'sowani' (https://goo.gl/T3Uyqx) tanggal 5 Mei 2017, menuturkan bahwa beliau mendapat amanat dari Habib Umar Al Muthohar, pengasuh Pondok Pesantren Al-Madinah (https://goo.gl/9x2i1D), Gunungpati, Semarang untuk rajin menziarahi dan merawat Makam leluhurnya hingga bin ketujuh a.k.a Simbah Udeg-Udeg pancer lanang yaitu ya Kyai Khamdani (A10) tersebut. Selain Gus Ulin, ada cucu Canggah Kyai Khamdani (A10) yang meneruskan perjuangan Pondok Pesantren yaitu Pak Syamsul Hadi (2318F4) yang mendirikan Pondok Pesantren Nurul Huda (https://goo.gl/bGHxJM), Sugihan, Andong, Boyolali dan Pak Syamsul Hadi merupakan Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah (https://id.wikipedia.org/wiki/Tarekat_Naqsyabandiyah), sedangkan istri Kyai Muchsin pendiri Pondok Pesantren Al-Husain, Krakitan, Magelang yaitu Bu Nyai Nurlaila putrinya Bu Munidjah (1147G4) merupakan cucu Gropak Sente dari Kyai Abdul Djalal 1 (A3).

Jadi, Kesimpulannya, Kyai Amal Modjo memberikan nama Kelurahan Kaliyoso di Kecamatan Dungaliyo itu, apakah setelah mendengar dari warga Kaliyoso, Sragen dan sebelum diasingkan oleh Belanda ke Sulawesi mengingat hubungan kekerabatan antara Kyai Abdul Djalal dengan putri Kyai Jumal Korib, yang penulis masih perlu memastikannya lagi dengan berkonsultasi kepada Pak Ir. Heru Basuki Modjo, penulis buku Dakwah Dinasti Mataram Dalam Perang Diponegoro, Kyai Mojo & Perang Sabil Sentot Ali Basah, di Masjid Agung Al-Falah Kyai Modjo, nanti tanggal 30 Juni 2017*, serta masa hidup beliau Kyai Amal Modjo itu tahun 1885 Masehi, berarti 100 tahun setelah Kaliyoso di Sragen berdiri sekitar 1788 Masehi yang merupakan pemberian nama Raja Paku Buwono IV, ataukah memang keputusan itu terinspirasi dari tempat sekitar karena melihat banyak sungai di Desa Kaliyoso kecamatan Dungaliyo, Gorontalo, sila pembaca yang punya data bisa berbagi di kolom komentar di bawah.

*update:
hasilnya, di dekat Taman Makam Pahlawan Kyai Modjo atau Kyai Muslim Muhammad Halifah terdapat makam Kyai Semanggi Kaliyoso atau dikenal juga dengan nama Ki Gading. Untuk mencapai makam tersebut dari Bandara Udara Internasional Sam Ratulangi Manado, kita bisa menaiki angkutan kota warna biru yang menuju Terminal Bis Paal Dua terlebih dahulu, lalu berikutnya ke Terminal Karombasan, baru ke Terminal Tondano, baru dari sana bisa naik Bendi/delman/dokar atau Ojek.

Yah adapun motivasi dan inspirasi penulis dari ceramah Habib Lutfi yang diunggah di Youtube berjudul "Habib Luthfi : Keistimewaan Ziarah di Makam Wali adalah isin (Malu)" berikut, supaya bukti sejarah bisa dilestarikan oleh generasi penerus dan yang merasa ahli warisnya bisa ikut menjaga Marwah Ulama yang juga merupakan leluhurnya sendiri.

Reactions:

You Might Also Like:

Berikan Komentar Sembunyikan Komentar

Hello, how may we help you? Just send us a message now to get assistance.

Facebook Messenger ×